skip to main |
skip to sidebar
Suatu saat, Guru Mulia al-Habib Umar bin
Hafidz pernah mengajar ilmu nahwu dasar. Di situ terdiri dari berbagai
tingkatan murid, ada murid-murid yang memang baru kenal nahwu, ada murid
yang sudah mendalami nahwu, sampai ada
guru guru pakar syariah yang sudah sangat mendalam ilmu nahwu dan
seluruh cabang lainnya, mereka semua ikut duduk hadir.
Lalu
Guru Mulia al-Habib Umar bin Hafidz memberi contoh Fi'il Amr (kata ganti
untuk perintah), hanya contoh kata saja. Tetapi ketika beliau bersuara
dengan nada yang sedikit ditekan, beliau menyebutkan beberapa kata dan
tiba-tiba para murid senior yang sudah jauh melewati nahwu malah
tertunduk menangis ketakutan.
“Saya jadi bingung, ini kan
pelajaran nahwu dasar dan contoh yang diberikan hanya contoh Fi'il Amr.
Saya pun sudah tahu itu tapi diam saja karena tahu kedalaman ilmu
beliau, namun kenapa guru-guru saya yang murid beliau juga, malah
menunduk dan menangis ketakutan?” gumamku dalam hati.
Ternyata
mereka mendalami makna ucapan itu, meski Guru Mulia al-Habib Umar bin
Hafidz hanya mengajarkan contoh saja kepada mereka yang masih belajar
nahwu dasar, tapi contoh-contoh fi'il itu sangat menghantam dengan
pengajaran tajam pada para senior. Ucapan beliau beberapa contoh Fi'il
Amr adalah: “Ikhsya’!, Ikhdha’!, Irqa’!” dan beberapa contoh lainnya.
Bagi yang pemahaman ilmu nahwunya baru kelas dasar mereka hanya
mencatat selesai, tapi para senior menangkapnya dengan lebih khusus,
mereka menunduk ketakutan dan menangis karena makna ucapan kalimat itu
yang antara lain adalah: “Ikhsya’” (khusyuklah!), “Ikhdha’!” (tunduklah
pada Allah!), “Irqa’!” (dakilah tangga keluhuran!).
Para senior
itu gemetar dengan kalimat-kalimat itu, padahal beliau hanya memberi
contoh saja pada mereka yang nahwunya di kelas dasar, tapi memberi ilmu
makrifah pada yang kelas senior dengan ucapan yang sama.
Demikian samudera ilmu, mengajar satu cabang ilmu, namun berbeda
maknanya sesuai dengan yang difahami dan ditangkap oleh masing-masing
tingkatan.
Setiap orang mendambakan masa depan yang lebih baik ; kesuksesan dalam karir,
rumah tangga dan hubungan sosial, namun seringkali kita terbentur oleh berbagai
kendala. Dan kendala terbesar justru ada pada diri kita sendiri.
Melalui karyanya, Joel Osteen menantang kita untuk keluar dari pola pikir yang
sempit dan mulai berpikir dengan paradigma yang baru.
Ada 7 langkah agar kita mencapai potensi hidup yang maksimal :
* Langkah pertama adalah perluas wawasan. Anda harus memandang kehidupan ini
dengan mata iman, pandanglah dirimu sedang melesat ke level yang lebih tinggi.
Anda harus memiliki gambaran mental yang jelas tentang apa yang akan Anda raih.
Gambaran ini harus menjadi bagian dari dirimu, didalam benakmu, dalam percakapanmu,
meresap ke pikiran alam bawah sadarmu, dalam perbuatanmu dan dalam setiap
aspek kehidupanmu.
* Langkah ke dua adalah mengembangkan gambar diri yang sehat. Itu artinya Anda harus
melandasi gambar dirimu diatas apa yang Tuhan katakan tentang Anda.
Keberhasilanmu meraih tujuan sangat tergantung pada bagaimana Anda memandang
dirimu sendiri dan apa yang Anda rasakan tentang dirimu. Sebab hal itu akan menentukan
tingkat kepercayaan diri Anda dalam bertindak. Fakta menyatakan bahwa Anda tidak akan
pernah melesat lebih tinggi dari apa yang Anda bayangkan mengenai dirimu sendiri
* Langkah ke tiga adalah temukan kekuatan dibalik pikiran dan perkataanmu.
Target utama serangan musuh adalah pikiranmu. Ia tahu sekiranya ia
berhasil mengendalikan dan memanipulasi apa yang Anda pikirkan, maka ia
akan berhasil mengendalikan dan memanipulasi seluruh kehidupanmu.
Pikiran menentukan prilaku, sikap dan gambar diri. Pikiran menentukan tujuan.
Alkitab memperingatkan kita untuk senantiasa menjaga pikiran.
* Langkah ke empat adalah lepaskan masa lalu, biarkanlah ia pergi...
Anda mungkin saja telah kehilangan segala yang tidak seorangpun patut mengalaminya
dalam hidup ini. Jika Anda ingin hidup berkemenangan , Anda tidak boleh memakai
trauma masa lalu sebagai dalih untuk membuat pilihan-pilihan yang buruk saat ini.
Anda harus berani tidak menjadikan masa lalu sebagai alasan atas sikap burukmu
selama ini, atau membenarkan tindakanmu untuk tidak mengampuni seseorang.
* Langkah ke lima adalah temukan kekuatan di dalam keadaan yang paling buruk sekalipun
Kita harus bersikap :" Saya boleh saja terjatuh beberapa kali dalam hidup ini, tetapi
tetapi saya tidak akan terus tinggal dibawah sana." Kita semua menghadapi
tantangan dalam hidup ini . KIta semua pasti mengalami hal-hal yang datang
menyerang kita. Kita boleh saja dijatuhkan dari luar, tetapi kunci untuk hidup
berkemenangan adalah belajar bagaimana untuk bangkit lagi dari dalam.
* Langkah ke enam adalah memberi dengan sukacita. Salah satu tantangan terbesar
yang kita hadapi adalah godaan untuk hidup mementingkan diri sendiri.
Sebab kita tahu bahwa Tuhan memang menginginkan yang terbaik buat kita,
Ia ingin kita makmur, menikmati kemurahanNya dan banyak lagi yang Ia sediakan buat kita,
namun kadang kita lupa dan terjebak dalam prilaku mementingkan diri sendiri.
Sesungguhnya kita akan mengalami lebih banyak sukacita dari yang pernah dibayangkan
apabila kita mau berbagi hidup dengan orang lain.
* Langkah ke tujuh adalah memilih untuk berbahagia hari ini. Anda tidak harus menunggu
sampai semua persoalanmu terselesaikan. Anda tidak harus menunda kebahagiaan
sampai Anda mencapai semua sasaranmu. Tuhan ingin Anda berbahagia apapun kondisimu,
sekarang juga !
( Dikutip dari : Mencapai potensi hidup yang maksimal by Joel Osteen)